Tampilkan postingan dengan label Manajemen Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

05. KEPUASAN (Manajemen Budaya)

KEPUASAN


Konsep dan Definisi

Kepuasan menggambarkan respon emosional terhadap situasi yang sesuai atau melebihi pengharapan dan respon tersebut menggambarkan kualitas pelayanan.


Tingkatan Kepuasan

Kepuasan / ketidakpuasan terlihat dari:
A.      Sikap
B.      Ekspresi
C.      Suara
D.      Perhatian
E.       Kemampuan mengingat
F.       Kemampuan memecahkan masalah.

Contoh Ukuran Kepuasan:

Maka
Jika
Sikap Terbuka
Sikap Tertutup
Puas
  • Memberikan pujian (compliment)
  • Bercerita pengalaman pada orang lainnya
  • Merekomendasikan teman untuk mencoba
  • Menjadi langganan (repeater)
  • Mimik wajah gembira dan senang
  • Bahasa tubuh riang dan segar
Tidak Puas
  • Memberikan keluhan (complaint)
  • Marah dan geram
  • Mengingatkan teman untuk tidak mencoba
  • Pergi dan tidak datang kembali
  • Mimik wajah kesal dan sendu
  • Bahasa tubuh lemas dan sedih



Faktor Pembentuk Kepuasan
1.       Faktor Eksternal – situasi
2.       Sistem Nilai
3.       Faktor Internal – pribadi

Dimensi Kepuasan
-          Kepuasan Instrumental – kinerja teknis atau fisik
-          Kepuasan Ekspresif – kualitas fungsional atau psikologis

Kualitas Pelayanan
-          Kualitas adalah persepsi pemikiran seseorang.
-          Kualitas adalah
-          kesesuaian antara persyaratan suatu kebutuhan.
-          kesesuaian antara pelayanan dengan harapan

Ukuran Kualitas
-          Secara teknis – diukur dari bentuk aktual
-          Secara fungsional – diukur dari dampak kebutuhan
Pelayanan
Pelayanan adalah setiap tindakan atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang dapat berbentuk tidak nyata dan tidak selalu berarti dimiliki.

Sifat Pelayanan
a.       Intangiable
b.      Inseparable
c.       Volatility
d.      Heterogen
e.      Perishable
f.        No-ownership
g.       Dimensi manusia
h.      Kebutuhan loyalitas
i.         Partisipasi konsumen

Moment of truth vs. Moment of Impact
-          Moment of truth adalah saat-saat inti yang diharapkan oleh wisatawan dan masyarakat dimana interaksi terjadi.
-          Moment of impact adalah hasil dari moment of truth

Kualitas Pelayanan ≠ Kepuasan
-          Kualitas pelayanan = proses penyampaian pelayanan.
-          Kualitas pelayanan adalah penentu kepuasan.
-          Kepuasan = hasil akhir psikologis dari pengalaman seseorang.
-          Kepuasan melibatkan unsur emosional.

Penilaian Kualitas Pelayanan
-          SERVQUAL - keandalan, tanggapan, kompetensi, kemudahan, kesopanan, komunikasi, kredibilitas, keamanan, pemahaman atau mengetahui pelanggan dan berwujud. Kesepuluh aspek tersebut mengukur kesenjangan antara harapan dan pengalaman
-          RATER
o   Reliability atau keandalan
o   Assurance atau jaminan
o   Tangibles atau berwujud
o   Empathy atau empati, dan
o   Responsiveness atau tanggap.





Keluhan berdasarkan:
1.       Waktu
a.       Keluhan asli (genuine complaints)
b.      Keluhan reguler
2.       Jenis
a.       Keluhan thd teknis (mechanical)
b.      Keluhan thd sikap (attitude)
c.       Keluhan thd pelayanan (service-related)
d.      Keluhan tidak lazim (unusual)

Rangkuman

Kepuasan bersifat subjektif dan merupakan
a.       perbandingan antara harapan dan pengalaman
b.      perbedaan antara persepsi dan kenyataan
c.       kesesuaian antara ekspektasi dan lingkungan
d.      kesepakatan antara sistem nilai wisatawan dan masyarakat
e.      hasil dari interaksi sosial.

Dosen : Ismayanti (©maya.syahrial 2013)


04. Persepsi (Manajemen Budaya)

PERSEPSI


Konsep dan Definisi Persepsi
-          Proses yang dilalui oleh seseorang ketika ia melihat dunia sekitarnya dan mengambil makna atas informasi dan rangsangan yang ada dari proses penginderaan yang selanjutnya diproses oleh otak.

-          Persepsi bersifat subjektif tetapi realitas bersifat objektif.

Bentuk Persepsi Dalam Interaksi Sosial
a.       Persepsi terhadap orang lain
b.      Persepsi terhadap diri sendiri
c.       Persepsi terhadap persepsi itu sendiri (=metapersepsi)

Hubungan Budaya, Interaksi Sosial dan Persepsi
-          Persepsi dibentuk oleh faktor eksternal (cth.Budaya) dan internal.
-          Budaya mengajarkan manusia untuk mengerti dan memahami cerita dan pengalaman dan menginterpreasikan makna (=persepsi).
-          Interaksi dua budaya yang mirip cenderung memudahkan pembentukan persepsi dari dua budaya tersebut, sebaliknya.

Persepsi vs. Sikap, Citra, Atribut
-          Sikap dibentuk atas dasar persepsi. Persepsi  positif membentuk sikap positif, dan sebaliknya.
-          Citra adalah kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan dan penggambaran dari persepsi yang terbentuk.
-          Atribut (=ciri) adalah sebuah proses menandai asal karakteristik kualitas dari seseorang, sekelompok masyarakat dan sesuatu produk (berdasarkan persepsi).

Stereotip
-          Penetapan ciri, penamaan dan pandangan terhadap karakteristik umum.
-          Menstereotipkan berarti membentuk ciri standar atas suatu kelompok biasanya untuk menyederhanakan identifikasi yang sangat kompleks.



Stereotip ≠ Buruk Sangka
-          Prejudice (=Buruk Sangka) adalah memberikan penilaian terhadap seseorang atau sebuah masyarakat sebelum menyadari fakta atau kondisi yang ada.
-          Stereotip bukan buruk sangka, tetapi bisa menjadi buruk sangka.

Etnosentris
-          Etnosentris adalah anggapan suku bangsa sendiri lebih baik dari pada suku bangsa lain.
-          Kata etnosentris berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti orang-orang atau bangsa, dan ketron yang berarti pusat, atau dengan kata lain, menjadi pusat dalam kelompok budaya sendiri.
-          Etnosentris membatasi kemampuan seseorang untuk memahami budaya lain dan sudah dipastikan mereka akan mengalami gegar budaya.

Rangkuman

-          Persepsi merupakan proses memberikan makna dari lingkungan, pengalaman, kesan dan interpretasi tingkah laku.
-          Persepsi bersifat subjektif dan berbeda dengan realita.
-          Jika persepsi positif, maka terjadi interaksi sosial dan menciptakan sebuah kepuasan.
-          Jika negatif, persepsi menghambat keinginan manusia melakukan interaksi sosial.
-          Persepsi + Atribut = Stereotip.
-          Stereotip terjadi karena adanya keterbatasan pemahaman tentang budaya lain. Jika dibiarkan, maka terjadi etnosentris.

Dosen : Ismayanti (©maya.syahrial 2013)

03. Nilai dan Norma (Manajemen Budaya)

Norma dan Nilai

Konsep Nilai
Nilai sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari melalui proses menimbang untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, dst.

Definisi Nilai
Rokeach dalam Reisinger (2007),
Nilai adalahKeyakinan tentang cara bertingkah laku yang diinginkan sebagai lawan dari cara bertingkah laku yang tidak diinginkan.

Fungsi Nilai
1.       Penentu peranan-peranan sosial.
2.       Memotivasi seseorang untuk mencapai cita-cita.
3.       Alat solidaritas bagi anggota masyarakat.
4.       Alat pengawas perilaku manusia.

Nilai
-          Nilai adalah penjabaran ‘baik’ dan ‘buruk’ atas kesepakatan antara individu satu dengan individu lainnya.
-          Nilai memberikan perasaan “inilah tingkah laku yang diinginkan”.

Konsep Norma
-          Norma merupakan aturan yang ditetapkan secara formal berupa hukum tertulis dan dapat ditetapkan secara informal berupa kontrol sosial.
-          Norma adalah seluruh kaidah dan peraturan yang diterapkan melalui lingkungan sosialnya.

Definisi Norma
-          Norma adalah rasa mutual dalam kelompok yang memiliki arti ‘benar’ dan ‘salah’.
-          Norma memberikan perasaan “inilah tingkah laku yang seharusnya”.
-          Pelanggaran norma dikenakan sanksi hukum dan para pelanggar norma dianggap eksentrik atau tak normal (perilaku di luar kebiasaan).

Ciri-ciri Nilai dalam Budaya
1.       Merupakan konstruksi masyarakat (hasil interaksi antarwarga masyarakat).
2.       Disebarkan diantara warga masyarakat (bukan bawaan lahir).
3.       Terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar)
4.       Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5.       Bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain.
6.       Dapat mempengaruhi pengembangan diri sosial
7.       Memiliki pengaruh yang berbeda antarwarga masyarakat.
8.       Cenderung berkaitan satu sama lain.

Tipe Nilai – Rokeach Value Survey

1.       Nilai-nilai terminal
Bentuk akhir keberadaan yang diharapkan; sasaran yang hendak dicapai seseorang dalam kehidupannya.
Contoh :
a.       Kehidupan yang nyaman (makmur)
b.      Kehidupan yang menarik (memotivasi, aktif)
c.       Rasa pencapaian (kontribusi permanen)
d.      Dunia dalam perdamaian (bebas dari peperangan dan konflik)
e.      Keindahan dunia (keindahan alam dan seni)
f.        Kesetaraan (persaudaraan, kesamaan peluang untuk semua)
g.       Keamanan keluarga (merawat mereka yang dicintai)
h.      Kebebasan (kemerdekaan, bebas memilih)
i.         Kebahagiaan (kepuasan)
j.        Harmoni internal (bebas dari konflik internal)
k.       Kematangan cinta (keintiman seksual dan spiritual)
l.         Keamanan nasional (perlindungan dari serangan)
m.    Kesenangan (menikmati, hidup gembira)
n.      Keberkahan (kehidupan yang selamat, abadi)
o.      Kehormatan diri (penghargaan diri)
p.      Pengakuan sosial (kehormatan, kekaguman)
q.      Persahabatan sejati (pertemanan dekat)
r.        Kebijaksanaan (pemahaman matang tentang kehidupan)

2.       Nilai-nilai instrumental
Bentuk perilaku atau upaya-upaya pencapaian nilai terminal yang lebih disukai oleh orang tertentu.
Contoh :
a.       Ambisius (pekerja keras, penuh harapan)
b.      Berpandangan luas (pikiran terbuka)
c.       Berkemampuan (kompeten, efektif)
d.      Ceria (ringan hati, suka cita)
e.      Bersih (rapi, tertata)
f.        Penuh keberanian (membela keyakinan)
g.       Pemaaf (memaklumi orang lain)
h.      Penolong (bekerja untuk kebajikan)
i.         Jujur (terbuka, tulus)
j.        Imajinatif (penyayang, kreatif)
k.       Independen (mengandalkan diri, kepuasan diri)
l.         Intelektual (cerdas, reflektif)
m.    Logis (konsisten, rasional)
n.      Pencinta (penyayang, lembut)
o.      Patuh (setia, penuh hormat)
p.      Sopan (beradab, berperilaku baik)
q.      Tanggung jawab (tempat bergantung, dapat diandalkan)
r.        Pengendalian diri (terkendali, disiplin)

Perbedaan Nilai dan Norma

Berdasarkan jenis:
-          Nilai berwujud
-          Nilai tidak berwujud

Berdasarkan tingkat kepentingan:
-          Nilai Primer
-          Nilai Sekunder
-          Nilai Tertier

Perbedaan Norma (1)
1.       Norma Keadilan
2.       Norma kewajaran (equity) merupakan konsep kelayakan individu dalam masyarakat.
3.       Norma keseimbangan (equality) adalah konsep pemerataan dalam bersosialisasi.
Perbedaan Norma (2)
-          Norma Resiprokal
Konsep hubungan yang mutual antar individu seperti saling tolong menolong, tidak menyakiti, dll.

Tipe Norma atau Aturan
a.       Situation rules: bagaimana seseorang harus dan tidak harus bertingkahlaku dalam suatu kondisi seperti, menyapa, bertukar hadiah, memulai percakapan, bahan pembicaraan, dst.
b.      Relationship rules: aturan untuk menjaga hubungan sosial yang dilakukan secara eksplisit, formal, bahasa tulisan dan lisan dan tata bahasa resmi.

c.       Universal dan specific rules: aturan yang berlaku dimana pun seperti, harus ramah, tidak boleh menyakiti, harus sopan, dst.


Hubungan Budaya, Nilai dan Norma:
o   Sebuah budaya akan stabil apabila norma yang ada, merefleksikan nilai kelompok.
o   Perbedaan budaya berawal dari perbedaan norma dan nilai dalam masyarakat.

Perbedaan Nilai dalam Budaya:
a.       Sifat manusia
b.      Orientasi terhadap lingkungan
c.       Kegiatan manusia
d.      Waktu
e.      Hubungan antar manusia
f.        Ruang
g.       Arus informasi
h.      Bahasa

Rangkuman:
a.       Aturan berupa norma, dalam hubungan sosial memegang peranan penting dalam interaksi antar individu.
b.      Nilai adalah standar determinasi sebuah budaya tentang perilaku yang diinginkan oleh masyarakat.


Dosen : Ismayanti (©maya.syahrial 2013)

02. Kontak dan Interaksi Sosial (Manajemen Budaya)

Interaksi Sosial
Konsep Kontak Sosial:
1.       Kontak sosial adalah keadaan ketika seseorang berhubungan dengan orang lain.
2.       Kontak sosial terjadi pada beragam situasi, di tempat kerja, di lingkungan tempat tinggal, di sekolah, di pasar, dan di manapun ketika manusia bertemu dengan manusia lain.

Tingkatan Kontak Sosial:
1.       Co-presence, level minimum ketika seseorang memberikan signal menandakan keberadaannya dalam masyarakat
2.       Focused, hubungan ketika manusia mulai bekerjasama dan menjalin transaksi dalam bentuk komunikasi.

Pengertian Interaksi Sosial:
1.       Ketika kontak sosial terjadi lebih intensif maka hubungan tersebut beralih menjadi interaksi sosial.
2.       Interaksi sosial adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. .

Komponen Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial:
1.       Hubungan interpersonal - motivasi
2.       Sasaran –tujuan interaksi sosial
3.       Aturan – nilai yang dianut dalam masyarakat
4.       Peranan – tugas, tanggungjawab dan hak
5.       Komunikasi – verbal dan non-verbal
6.       Perilaku – tindakan atau sikap yang wajar
7.       Konsep – prinsip dan filosofi
8.       Lingkungan – kondisi ruang, waktu, suasana
9.       Kemampuan dan Keterampilan – motorik, memori dan bahasa

Bentuk Kontak Sosial Dalam Pariwisata:
1.       Tuan rumah atau penyedia jasa (host) – Wisatawan atau pengguna jasa (tourist)
2.       Wisatawan – Wisatawan
3.       Wisatawan – Wisatawan Potensial
4.       Penyedia jasa – Pemasok

Kapan Kontak Sosial Terjadi?
1.       Wisatawan memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh dirinya sendiri.
2.       Wisatawan membeli barang atau jasa dari masyarakat setempat.
3.       Wisatawan dan penduduk sama-sama melakukan kegiatan wisata di daerah tujuan wisata.
4.       Keduanya melakukan transaksi atas produk barang atau jasa serta pertukaran informasi.



Faktor Yang Mempengaruhi Kontak Dan Interaksi Sosial
1.       Temporal - waktu, bagian peran yang dimainkan oleh wisatawan dan tuan rumah, dan lainnya.
2.       Spatial - ruang fisik, jarak, posisi, aturan sosial dan lainnya.
3.       Komunikasi - bahasa, tingkah laku non verbal, dan lainnya.
4.       Budaya - perbedaan nilai, persepsi, sikap dan lainnya.

Kekagetan Budaya
                Culture Shock atau Gegar Budaya atau keterkejutan budaya menggambarkan kondisi di mana seseorang mengalami pengalaman tertekan, khawatir dan ketakutan karena ia tidak mampu mengikuti (kehilangan) pemahaman terhadap tanda dan simbol dalam interaksi sosial seperti kebiasaan, isyarat, ekspresi wajah dan percakapan.
Bentuk Kekagetan Budaya 
1.       Role shock -  muncul ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan tentang aturan berperilaku
2.       Languange shock – muncul ketika seseorang tidak biasa dengan bahasa dan tidak mampu berkomunikasi dengan lancar
3.       Transition shock – reaksi negatif terhadap perubahan lingkungan baru
4.       Re-entry shock – masalah emosi dan fisik ketika kembali ke kampung halaman
5.       Culture fatique – kelelahan yang muncul ketika beradaptasi di lingkungan baru

Tanda-tanda Culture Shock
1.       Kebingungan
2.       Perasaan penat oleh informasi yang overload
3.       Perasaan marah dan bermusuhan dgn orang-orang sekitar (masyarakat setempat)
4.       Over-reaction bahkan iritasi minor menimbulkan marah atau tangisan yang berlebihan
5.       Kurang konsentrasi
6.       Kesalahan pembuatan keputusan dan penilaian yang buruk
7.       Kelelahan yang berlebihan
8.       Disorientasi
9.       Kekhawatiran
10.   Insomnia
11.   Apatis
12.   Depresi atau menarik diri dari pergaulan
13.   Over-dependen pada mereka yang berasal dari negara asal yang sama
14.   Gagal bertindak atau immobilisasi
15.   Selalu berharap pulang ke rumah
16.   Phobic behaviour
17.   Tidak mampu membuat keputusan

Culture shock muncul dalam:
1.       Makanan & minuman
2.       Kebiasaan (habits)
3.       Greeting dan percakapan sehari-hari
4.       Praktek keagamaan
5.       Cara belajar mengajar
6.       Sikap terhadap otoritas
7.       Lansekap
8.       Iklim
9.       Bau-bauan (smell)
10.   Perkotaan & bangunan
11.   Transportasi
12.   Biaya hidup
13.   Gesture
Kesimpulan
1.       Konsep kontak sosial dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara wisatawan dan tuan rumah atau masyarakat setempat.
2.       Keragaman dan intensitas interaksi sosial memberikan dampak baik positif maupun negatif terhadap wisatawan dan masyarakat.
3.       Pengaruh budaya dalam interaksi sosial adalah penting terutama di dalam industri pariwisata, industri yang sarat dengan suasana antar budaya dan lintas budaya.
4.       Wisatawan dan masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda dapat mengalami kesulitan saat mereka berinteraksi yang bisa menyebabkan gegar budaya.

Apakah aspek penting dalam kontak sosial?
Tuliskan lima aspek kemampuan utama dalam interaksi sosial
1.       Percaya diri                        
2.       Toleransi
3.       Persepsi atau citra                          
4.       Nyaman dg perbedaan
5.       Bahasa                 
6.       Perasaan bernilai
7.       Menerima perbedaan                  
8.       Pengetahuan
9.       Keterbukaan                     
10.   Keterampilan
11.   Lintas budaya                   
12.   Stereotipe
13.   Prasangka                          
14.   Nasionalisme


Dosen : Ismayanti (©maya.syahrial 2013)

Selasa, 29 Oktober 2013

01. Kesadaran Berbudaya (Manajemen Budaya)

Kesadaran Berbudaya

Pariwisata dan budaya
-          Budaya dan Pariwisata terlihat seperti dua sisi mata uang.
-          Budaya menjadi jantung dari kepariwisataan dan dimana pariwisata diharapkan mampu berperan secara multi-dimensi.
-          Budaya dan pariwisata di Indonesia merupakan unifikasi sebagai akibat multikultural.
-          Visi pemerintah adalah mengupayakan budaya dan pariwisata Indonesia sebagai media persahabatan antar bangsa.
-          Visi ini tentunya dapat dicapai dengan melibatkan beragam pihak dengan pemahaman yang seimbang baik dari sisi wisatawan sebagai pengguna jasa maupun dari sisi tuan rumah sebagai penyedia jasa.

Asal Kata Budaya
Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu ‘buddhayah’ yang merupakan bentuk jamak dari ‘buddhi’ yang berarti budi atau sikap dan akal atau pemikiran manusia yang dimanfaatkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam bahasa Inggris, budaya disebut ‘Culture’ dan kebudayaan diterjemahkan menjadi ‘Cultural’, yang berasal dari bahasa Latin ’Colere’ yang berarti mengolah dan mengerjakan sesuatu menjadi hal yang berarti bagi kehidupan manusia.

Perbedaan antara Budaya dan Kebudayaan
Budaya bermakna cara hidup, tingkah laku, kepercayaan, nilai, kebiasaan, standar estetika, institusi sosial dan gaya komunikasi yang dikembangkan oleh sekelompok orang untuk mempertahankan hidup dalam lingkungan fisik dan kemanusiaan.
Dalam definisi klasik, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks di mana di dalamnya terdapat pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, kebiasaan dan kemampuan-kemampuan lain dan rutinitas lain manusia sebagai anggota masyarakat.


Beragam Pendekatan :
1.       Berdasarkan antropologi, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kemudian dijadikan milik manusia yang membuatnya melalui proses belajar.
2.       Berdasarkan sosiologi, kebudayaan adalah seluruh kelakuan manusia yang diatur oleh tata kelakuan dan harus didapatkan melalui proses belajar yang tersusun dalam tata kehidupan manusia.
3.       Berdasarkan perilaku, kebudayaan adalah cara hidup, tingkah laku, keyakinan, nilai, adat istiadat, kebiasaan, standar estetika, gaya komunikasi, norma dan etika yang disepakati oleh sekelompok orang yang secara sepakat mengembangkan dan melestarikan keberadaannya, baik secara fisik maupun non-fisik.

Sifat Budaya :
1.       Fungsional
2.       Fenomenal sosial
3.       Perintah penggunaan
4.       Sebagai pelajaran
5.       Sekehendak hati
6.       Muatan Nilai dan Norma
7.       Adaptif dan dinamis
8.       Jangka panjang
9.       Kebutuhan kepuasan

Kebudayaan dan Masyarakat
Kebudayaan timbul karena manusia berinteraksi dengan manusia lain.Budaya dapat dipahami sebagai perbedaan antar kelompok manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan perbedaan yang muncul tersebut menggambarkan eksistensi budaya dalam masyarakat. Kebudayaan harus diteruskan dengan beragam cara:
a.       bicara,
b.      lihat,
c.       dengar atau lakukan.




Wujud Kebudayaan
1.       Budaya Material: Artifak (Karya)
Wujud budaya fisik dari hasil perbuatan dan karya yang bersifat konkret, dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan.
2.       Budaya Non-material: Ciptaan yang abstrak
a.       Gagasan (Wujud Ideal)
Ide, gagasan, nilai, norma, peraturan yang tidak dapat diraba atau disentuh dan ada dalam kepala atau pemikiran warga masyarakat.
b.      Aktivitas (Tindakan)
Pola manusia dalam bermasyarakat – sistem sosial berupa adat, tata kelakuan yang bersifat konkret dalam kehidupan sehari-hari.


Unsur-Unsur Budaya

1.       Sistem peralatan dan perlengkapan kehidupan
2.       Sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi
3.       Sistem kemasyarakatan: kekerabatan dan organisasi sosial
4.       Bahasa: verbal dan nonverbal
5.       Kesenian
6.       Sistem ilmu dan pengetahuan
7.       Sistem kepercayaan dan agama



Budaya Berubah Karena:

1.       Invention atau penciptaan
2.       Discovery atau penemuan
3.       Difusi
4.       Akulturasi
5.       Akumulasi
6.       Asimilasi
7.       Modernisasi
8.       Inovasi

Manfaat Memahami Lintas Budaya:
1.       dapat menciptakan keselarasan dan rasa saling menghargai antar manusia.
2.       membuat manusia menghormati perbedaan dan saling bertoleransi.
3.       memperluas wawasan dan pengetahuan seseorang tentang orang lain.
4.       menjadi media persahabatan antara bangsa
5.       menciptakan keseimbangan dan harmonisasi.
Rangkuman:
1.       Budaya adalah segala sesuatu yang mencakup pola tingkah laku dan pola berpikir manusia di mana dapat berwujud dan tidak berwujud, dibentuk dalam beragam lapisan-lapisan, baik eksplisit maupun implisit.
2.       Pendukung kebudayaan bukan manusia seorang diri tetapi juga masyarakat seluruhnya.
3.       Dinamika lintas budaya dapat terjadi melalui penciptaan, penemuan, inovasi, modernisasi, akulturasi, akumulasi, asimilasi dan difusi.

Dosen : Ismayanti (©maya.syahrial 2013)